Dear, My Love.

Author’s POV

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktiv. Silahkan coba beberapa saat lagi…” 

Tiffany menghela napas beratnya, ini sudah yang ke sepuluh kalinya dia mencoba menghubungi Taeyeon, tapi handphone kekasihnya itu selalu saja tidak aktif. Kemana sebenarnya orang itu ? Sudah 2 bulan sejak terakhir kali mereka bertemu dan hingga saat ini Taeyeon belum juga memberikan kabar apapun. Tiffany juga mencoba menghubungi keluarga dan teman dekat Taeyeon tapi semua jawaban mereka sama. Tidak tahu keberadaan Taeyeon saat ini. 

“Kau dimana Tae ?” Ucap Tiffany, lirih. Perlahan dia ambil bingkai foto Taeyeon dan dirinya yang selalu dia letakkan di meja kerjanya. Senyum bahagia mereka begitu natural dalam foto itu, foto yang diambil ketika mereka sedang liburan musim panas di Thailand. Tak ada satu haripun dia merasa sedih karna Taeyeon selalu berusaha memenuhi janjinya untuk selalu membahagiakan Tiffany, wanita yang sudah bersamanya selama 4 tahun.

Tak terasa airmata Tiffany keluar dari matanya, tatapannya menyiratkan kesedihan.

“Kim Taeyeon babo !! Menghilang tanpa jejak seenaknya !! Awas saja jika kau kembali aku akan memukulmu !!” Serunya sambil mengepalkan tangannya di depan wajah Taeyeon.

“Huft….kau dimana sih sebenarnya ?” Tiffany menjambak rambutnya dengan frustasi.

Tok tok tok 

“Ya silahkan masuk !”

“Permisi Miss Hwang, ini ada surat untuk Anda. Saya tidak tahu siapa pengirimnya.” Bae Suzy, sekretarisnya memberikan sepucuk surat berwarna pink.

“Terimakasih Suzy-ah, kau boleh kembali bekerja.” Tiffany mengambil surat tersebut dari tangan Suzy. Setelah gadis itu menghilang dibalik pintu dia lantas membuka surat misterius itu.

Dear, My Love.

Ini adalah pertama kalinya aku memberimu kabar setelah pertemuan terakhir kita 2 bulan yang lalu. Aku tau kau marah, aku tau kau kesal, aku tau kau sedih, tapi ada alasan kenapa aku tidak bisa kembali untuk saat ini. Dan alasan itu belum bisa aku beritahu padamu, aku tidak akan membalas pesanmu ataupun menjawab telponmu. Tapi kau tak usah khawatir, aku disini baik-baik saja dan aku berjanji akan berusaha kembali untukmu. Untuk itu ku mohon jangan khawatirkan aku, tersenyumlah, bahagialah, dan ku harap kau berdo’a untukku. 

Love,

Kim Taeyeon yang selalu mencintaimu.

Tiffany meremas selembar surat itu. Hatinya berkecamuk, sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Taeyeon ? Dan dimana dia sekarang ? Tiffany benar-benar bingung.

“Babo, bagaimana aku bisa tersenyum dan bahagia ? Jika alasan aku untuk melakukan kedua hal itu sekarang entah dimana dan tidak memberikan kabar yang pasti.” Tiffany melempar gumpalan kertas itu ke tempat sampah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seoul International Hospital

“Kau sudah selesai ? Ini waktunya kau periksa.” Kata seorang gadis yang menggunakan jas dokter sambil masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas.

“Oh, Choi Jun Hee-sshi. Ya aku sudah selesai.” Jawab seorang gadis yang berambut coklat itu sambil menutup bukunya.

“Yah, sudah aku bilang panggil saja aku Juniel. Lagipula kan kau lebih tua dariku.” Dokter berambut blonde itu memonyongkan bibirnya dengan lucu.

“Kau juga seharusnya memanggilku unnie, dasar tidak sopan.” Gadis yang menggunakan pakaian rumah sakit itu membalas dengan wajah kesal.

“Baiklah unnie, ayo~ sudah waktunya kau periksa.” Dokter Juniel mengulurkan tangannya ke arah pasiennya yang sudah bersamanya sejak beberapa bulan lalu.

Tapi bukannya menerima uluran tangan sang Dokter, pasien itu malah turun sendiri dari tempat tidurnya lalu berlari sambil membawa tiang infusnya.

“Yah ! Jangan berlari !” Alhasil Dokter Juniel harus ikut berlari juga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kwon Residence

Kwon Yuri sedang berdiri dibalkon rumahnya menatap hamparan gedung-gedung pencakar langit yang ada dihadapannya. Sejak tadi dia hanya diam, bahkan secangkir coklat panas yang dia bawa sekarang sudah menjadi secangkir coklat dingin.

“Seobang-ah.” Yuri terperanjat kaget ketika sepasang tangan melingkar diperutnya. Tapi dia kembali tenang ketika tau bahwa itu adalah istrinya, Kwon Jessica.

“Kau sedang apa hum ? Cuacanya semakin dingin disini.” Jessica mengeratkan pelukannya, punggung suaminya itu bagaikan bantal empuk untuknya.

“Aku hanya sedang memikirkan tentang Taeyeon dan Tiffany. Aku ingin memberitahu Tiffany mengenai kondisi Taeyeon, tapi aku juga tidak ingin mengingkari janjiku pada Taeyeon. Huft…bagaimana ini ?” Yuri memijat pelan pelipisnya, kepalanya mendadak pusing.

Jessica melepaskan pelukannya dan berpindah tempat menjadi di depan Yuri, dia lantas menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Yuri yang terasa dingin.

“Kita berdo’a saja Seobang, semoga Taeyeon baik-baik saja dan mereka bisa bersama lagi.” Jessica mengelus pelan pipi Yuri lalu memberikan senyuman hangatnya.

“Ya kau benar.” Kata Yuri lalu mencium kening Jessica.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Unnie, apa kau sudah siap menjalani operasi ?” Dokter Juniel bertanya kepada pasiennya dengan serius.

Sang pasien hanya menggelengkan kepalanya.

“Unnie, ini sudah 2 bulan sejak kau masuk rumah sakit. Jika kau masih belum melakukan operasi itu maka kondisimu akan semakin memburuk.” Dokter Juniel berusaha membujuk pasienya yang keras kepala itu.

“Belum saatnya aku melakukan operasi. Aku masih bisa bertahan. Jika aku sudah siap, aku akan memberitahumu.”

“Terserah apa maumu. Tapi jika kondisimu semakin buruk, aku terpaksa melakukan operasi dan jangan salahkan aku.” Dokter Juniel menghela napasnya ketika dia melihat pasiennya hanya menganggukan kepala. Dasar keras kepala. Pikirnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hwang Fashion.

“Hoaamm….” Tiffany menguap dengan lebar. Waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 KST dan dia masih berhadapan dengan komputernya, bukan karna dia betah berlama-lama dikantor tapi itu sudah menjadi resiko dan tanggung jawab yang harus dia penuhi sebagai CEO disebuah perusahaan besar. Dia harus benar-benar memastikan bahwa semua yang harus dibereskan hari itu, harus selesai pada hari itu juga.

Tiffany menyesap Caffe Lattenya yang sudah dingin dan isinya yang tinggal 1/4 cangkir kopinya yang berwarna putih. Lantas dia melamun karna teringat dengan “Boo”-nya yang sangat menyukai Caffe Latte.

Flashback

Bittersweet cafe, 11:30 KST.

Tiffany sedang duduk sendirian di meja dekat jendela yang posisinya berada di tempat paling pojok, suasana cafe saat itu sangat penuh dan gaduh. Wajar saja karna ini waktunya makan siang. Sambil membolak-balikkan halaman majalah yang baru saja dia beli, perlahan-lahan dia menyeruput kopinya yang masih hangat. Caramel Macchiato. Agak pahit memang, tapi entah kenapa dia seakan belum bisa lepas dari rasa kopi itu. Kopi yang selalu mengingatkannya pada mantan kekasihnya yang sudah tiada akibat kecelakaan mobil. Kenangan pahit yang akan selalu dia ingat dan membekas dimana seharusnya di hari pernikahannya itu menjadi hari yang sangat membahagiakan untuknya, tapi berubah 180○ ketika dia mendapat kabar bahwa calon suaminya, Choi Seunghyun mengalami kecelakaan dan tak terselamatkan.

“Maaf menganggu. Apakah tempat duduk ini kosong ?” Suara seorang wanita menyadarkan Tiffany dari lamunannya. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya dari majalah fashion yang sejak tadi hanya dia bolak-balik tak jelas.

“Oh iya. Silahkan duduk.” Tiffany mempersilahkan orang itu duduk bersamanya. Dilihat dari penampilannya, sepertinya orang ini adalah anak SMA atau anak kuliah.

“Namaku Kim Taeyeon. Maaf jika aku menganggu privasimu, sejak tadi aku berkeliling tempat ini dan tidak menemukan tempat duduk. Aku harap kau tidak keberatan.” Taeyeon mulai menyeruput Caffe Lattenya. Setelah selesai, dia memancarkan senyuman manisnya, semanis Caffe Latte yang sangat dia sukai.

“Namaku Tiffany Hwang. Kau bisa memanggilku Tiffany atau unnie.” Balas Tiffany yang juga menyeruput kopinya. Ekspresi wajahnya dingin, sedingin hatinya saat ini.

“Unnie ? Memangnya berapa umurmu ?” Tanya Taeyeon yang mulai penasaran. Tiffany menatap sebal, “ck dasar kepo”. Gumamnya dalam hati. Tapi sesaat kemudian dia berusaha menahan tawanya ketika Tiffany tersadar kalau di bibir Taeyeon ada kopi yang menempel dan membuat gadis itu punya kumis.

“Umurku 22 tahun. Kau pasti masih SMA kan ? Kenapa kau tidak sekolah ? Kau membolos ya ?” Tiffany bertanya sambil menatap sinis.

“Yah… umurku juga 22 tahun. Dan aku bukan anak SMA yang sedang membolos.” Taeyeon menjawab dengan nada bete.

“Mwo ?! Kau jangan bohong ya, aku tidak percaya.”

“Nih kartu identitasku. Jika tidak percaya ya sudah.” Taeyeon menyodorkan ID cardnya yang dia ambil dari dalam dompet.

“Baiklah baiklah aku percaya. Lagian lihat saja wajahmu yang belepotan kopi, ckckck dasar bocah.” Tiffany menyodorkan ID card Taeyeon setelah dia selesai melihatnya.

Taeyeon menjilat bibir bagian atasnya untuk menghapus ‘kumis’-nya.

“Pelayan !” Panggil Tiffany kepada pelayan pria yang sedang lewat.

“Aku pesan satu cangkir Caramel Macchiato lagi.” Tiffany memberikan cangkirnya yang sudah kosong.

Setelah mengerti, pelayan pria itu pun pergi untuk memenuhi pesanan Tiffany.

“Kau suka Caramel Macchiato ya ?” Tanya Taeyeon lalu menyeruput Caffe Lattenya lagi sedikit demi sedikit.

“Ya. Aku sangat menyukainya.” Jawab Tiffany, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan jawaban yang sebaliknya.

Tak lama kemudian, pesanan Tiffany datang. Secangkir Caramel Macchiato.

“Ini pesanan Anda, Nona. Selamat menikmati.” Pelayan pria itu langsung pergi setelah selesai menghidangkan pesanan Tiffany di atas meja. Tak perlu menunggu lama, Tiffany langsung meminum Caramel Macchiatonya. Dan lagi-lagi raut wajahnya masam.

“Kau menyukainya tapi wajahmu datar begitu.” Kata Taeyeon yang ternyata sejak tadi memperhatikan Tiffany.

“Jadi aku harus bagaimana ?” Tanya Tiffany dengan ketus.

“Kau bilang suka dengan Caramel Macchiato tapi ekspresi wajahmu mengatakan hal sebaliknya. Seseorang yang menyukai kopi, tak peduli walaupun kopi itu pahit tapi jika dia suka, maka wajahnya tetap tersenyum karna dia menyukainya.” Taeyeon menjelaskan.

“Pelayan ! Aku pesan satu Caffe Latte lagi.” Taeyeon berkata kepada pelayan wanita yang melintas.

Tak lama kemudian, Caffe Latte pesanan Taeyeon datang.

Tiffany masih terdiam dan tak menggubris perkataan Taeyeon. Lagian untuk apa juga dianggap ? Toh alasan dia menyukai Caramel Macchiato pada dasarnya memang bukan dari dirinya sendiri.

“Nah, cobalah Caffe Latte ini. Aku 100% yakin kau akan menyukainya.” Kata Taeyeon yang ternyata sudah menukar cangkir kopinya dengan milik Tiffany.

“Yah ! Apa-apaan kau ? Seenaknya saja menukar.” Tiffany mulai kesal. Tapi Taeyeon malah menjauhkan Caramel Macchiatonya.

“Apa salahnya mencoba ? Aku yakin kau suka. Jika kau tak suka maka aku akan membayar kopimu.” 

Tiffany ragu untuk sesaat. Tapi mulut orang ini tak mau berhenti berkicau jika dia tak menurut. Dengan malas, Tiffany mengambil cangkir Caffe Latte itu dan mulai meminumnya.

“Manis.” Pikirnya dalam hati. Tak sadar bahwa dia tersenyum ketika baru saja menikmati rasa manis yang baru dia rasakan.

“Ha ! Aku benar kan ? Kau menyukainya.” Taeyeon tersenyum lebar ketika dia melihat senyuman di wajah Tiffany.

Tiffany tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Taeyeon terutama lesung pipitnya yang lucu. Dan sejak saat itu Tiffany sudah mengganti Caramel Macchiatonya dengan Caffe Latte, begitu juga dengan penikmatnya.

Flashback end.

Tok tok tok

“Permisi Miss Hwang, ini ada kiriman makanan untuk Anda.” Suzy masuk sembari menenteng kantung plastik yang berisi makanan dari salah satu restoran yang letaknya tak jauh dari Hwang Fashion.

“Apa kau tau siapa pengirimnya ?” Tanya Tiffany.

“Maaf Miss, saya tidak tau.” Suzy menggelengkan kepalanya.

“Oh iya, kau sudah boleh pulang. Dan bilang pada pacarmu maaf sudah membuatnya menunggu lama.” Kata Tiffany lalu membuka bungkusan makanan itu.

“Ya, terimakasih Miss. Dan bagaimana Anda tau jika pacarku sudah menjemput ?” Suzy mengerutkan keningnya.

“Bukankah pacarmu selalu menjemput jika kau lembur ? Sudah pergilah.”

“Terimakasih Miss. Saya permisi.” Suzy membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan Tiffany.

“Siapa pengirimnya ya ?” Gumam Tiffany. Dia membuka kotak makanan dan melihat makanan kesukaannya yaitu belut bakar dan nasi. Seketika itu perutnya mulai mengeluarkan bunyi keroncongan. Dan ternyata ada sebuah surat yang menempel di dalam tutup kotak makanan tersebut, meskipun sudah lapar tapi Tiffany ingin membuka surat itu terlebih dahulu.

Dear, My Love.

Hai Fany-ah, apa kau masih lembur di kantor ? Hahaha tentu saja. Bagaimana tidak ? Hwang Fashion sedang berjaya sekarang, dan itu semua karna kerja kerasmu. Aku sangat bangga padamu. Apa pesananku sudah sampai ? Cepatlah makan. Aku tau kau selalu melewatkan makanmu jika sedang lembur, jadi aku pesankan makanan untukmu. Tak usah khawatirkan aku, aku masih berada di Korea dan tak usah mencariku karna aku yakin bisa kembali. Jaga selalu kesehatanmu ya. Saranghae.


Love,

Kim Taeyeon yang selalu mencintaimu.



Lagi-lagi airmata Tiffany tumpah. Meskipun tak secara langsung berada disampingnya, tapi gadis pendek itu masih perhatian padanya. Tiffany benar-benar bingung, sebenarnya apa yang direncanakan oleh Taeyeon hingga dia harus menghilang seperti ini. Tiffany ingin membalas surat yang di kirim Taeyeon tapi tidak tertera alamat yang jelas.

Tiffany mengusap airmatanya. Dia mulai menyantap makanan yang ada di depannya. Dan lagi, dia mengingat momen-momen kebersamaannya dengan Taeyeon.

Flashback.

Soshi Restaurant, 19:00 KST.

“Tae, kau bilang ingin mengajakku ke Namsan Tower. Kok malah kesini ?” Tanya Tiffany pada kekasihnya, Taeyeon. Mereka sudah berpacaran selama 3 bulan setelah berkenalan 6 bulan lalu. Tiffany mulai menyukai Taeyeon ketika gadis itu banyak menunjukkan hal-hal baru dan membuatnya melupakan kenangan masa lalunya yang menyedihkan.

“Iya, nanti kita ke Namsan Tower. Tapi ini sudah waktunya makan malam, jadi kita makan dulu oke ?” Taeyeon menarik tangan kekasihnya memasuki Soshi Restaurant.

“Tapi aku ingin ke Namsan Tower sekarang Tae~.” Tiffany merajuk ketika mereka baru saja duduk. Taeyeon tak membalas karna dia sedang sibuk memesan makanan kepada pelayan pria yang juga sedang sibuk mencatat.

“Kau harus makan dulu Fany-ah. Beberapa hari ini kau sering melewatkan makan dengan alasan sibuk kerja, dan sekarang kau harus makan. Aku tidak ingin kau sakit, mengerti ?” Taeyeon berkata dengan tegas. Sedangkan Tiffany masih merajuk.

“Oh ayolah baby~ makan dulu oke ?” Taeyeon meraih tangan Tiffany yang berada di atas meja lalu mengusapnya lembut. Tiffany hanya tersenyum simpul sambil mengangguk.

Beberapa menit kemudian makanan mereka datang.

“Wah belut~” Tiffany senyum dan bertepuk tangan ketika melihat makanan kesukaannya.

“Nah makan lah.”

Tiffany langsung menyantap makanannya dengan lahap. Selain karna itu adalah makanan kesukaannya tapi dia juga ingin cepat-cepat pergi ke Namsan Tower karna dia sudah lama sekali tidak mengunjungi tempat itu.

“Yah ! Kau lapar atau rakus ? Aigoo pelan-pelan makannya baby.” Taeyeon cukup kaget melihat cara makan Tiffany.

“Ish diamlah.” Jawab Tiffany sambil mengunyah.

“Kau makan seperti orang kelaparan. Nyam…nyam…nyam…” Taeyeon meledek.

“Terimakasih atas pujiannya.” Tiffany membalas dengan nada menyindir.

Flashback end.

Tiffany hanya bisa tersenyum simpul ketika mengingat momen-momen indahnya bersama Taeyeon. Betapa dia sangat merindukan si ‘boncel’ itu saat ini.

Setelah selesai menyantap makan malamnya, Tiffany membereskan pekerjaannya lalu pulang. Besok dia ingin istirahat saja di rumah karna besok adalah hari sabtu dan kantor libur.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seoul International Hospital.

Kau masih menulis surat untukknya ?” Tanya Dokter Juniel yang berdiri diambang pintu.

“Ckck apa kau tidak diajarkan untuk mengetuk pintu ?” Tanya pasiennya dengan nada menyindir.

Dokter Juniel masuk lalu duduk di kursi disamping tempat tidur pasiennya.

“Kau masih belum mau operasi ?” Dokter Juniel bertanya lagi.

“Belum. Aku akan menjalani operasi setelah hari ulang tahunnya 2 minggu lagi. Aku ingin kembali untuk menghadiri acara ulang tahunnya, aku….takut itu yang terakhir.” Pasien itu menunduk dan mengusap bukunya dimana disampul depannya terdapat fotonya dengan sang kekasih.

“Menurutmu dengan menunda seperti itu akan membuat kondisimu lebih baik ? Bagaimana jika fisikmu tak cukup kuat untuk datang ke acara ulang tahunnya ? Bukankah saat kau memutuskan untuk dirawat disini kau bilang ingin berusaha untuk sembuh dan kembali pada kekasihmu ?!” Kali ini Dokter Juniel meninggikan suaranya.

“Jun Hee-ah…aku-”

“Aku mencintaimu Taeyeon unnie.” Dokter Juniel berdiri. Tangannya terkepal, airmatanya sudah membasahi pipinya.

“Apa ?!” Sang pasien yang ternyata adalah Taeyeon terkejut dengan pernyataan dari Dokter yang sudah dia anggap sebagai adiknya.

“Aku mencintaimu Taeyeon unnie. Bukan sebagai adik kepada kakak. Itulah kenapa aku bersikeras untuk menolongmu. Tapi kau benar-benar keras kepala. Kau pikir penyakitmu main-main hah ?!” Dokter Juniel sudah kehilangan kesabarannya.

“Aku tidak mengerti denganmu unnie.” Dokter Juniel berbalik dan hendak pergi, tetapi sebuah tangan menahannya.

“Maafkan aku Jun Hee-ah….aku takut.” Kata Taeyeon. Wajahnya juga sudah berurai air mata.

“Unnie….aku dan yang lainnya akan berusaha menolongmu. Setidaknya kita sudah berusaha, keluarga dan teman-temanmu juga akan mendo’akanmu.” Dokter Juniel sudah sedikit tenang. Perlahan dia mengelus pipi Taeyeon dan mengusap airmatanya yang terus mengalir.

“Kau harus optimis unnie.”

“Terimakasih Jun Hee-ah. Tapi ijinkan aku untuk datang ke acara ulang tahun Tiffany ya ?” Taeyeon memohon.

“Ckck kepalamu sepertinya terbuat dari batu. Jika aku tidak mengijinkanmu kau akan terus berkicau kan ?”

“Hehehe terimakasih. Oh ya…uhm maaf tapi kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri Jun Hee-ah.”

“Aku mengerti unnie. Kau harus kuat. Ingat ! Tiffany unnie sedang menunggumu kembali.”

Taeyeon hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kemarilah adikku…peluklah unnie-mu.” Taeyeon merentangkan tangannya dan Dokter Juniel dengan senang hati memeluk unnie yang dia cintai itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 2 minggu kemudian…..

Ok uhm geser ke kanan sedikit…yap ok.” Seorang pria paruh baya sedang mengarahkan putranya, Leo, yang sedang memasang pernak-pernik khas ulang tahun. Hari ini tepatnya tanggal 1 Agustus adalah hari spesial bagi putri bungsu keluarga Hwang, siapa lagi kalau bukan Tiffany Hwang dimana hari ini usianya bertambah satu tahun menjadi 26 tahun.

“Fany-ah, kau sudah siap ?” Tanya Jessica, sepupunya yang kepalanya menyembul dari balik pintu.

“Aku belum siap Jessi.” Jawab Tiffany.

“Apanya yang belum siap ? Kau sudah memakai gaun yang cantik dan hanya perlu make up sedikit lalu kau sudah menjadi birthday girl yang cantik.” Kata Jessica sambil masuk ke kamar Tiffany dan mendekati sepupunya itu yang menunjukkan wajah sedih.

“Taeyeon….”

“Fany-ah…”

“Apakah dia akan datang ? Dia selalu jadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat dan kejutan untukku. Tapi dimana dia sekarang Jess ?” Mata indah Tiffany kembali mengeluarkan airmata.

“Sudahlah Fany…aku yakin dia akan datang dan memberikan kejutan untukmu.” Jessica berkata dengan sedikit ragu. Dia tau keadaan Taeyeon dan keberadaannya saat ini, dan dia juga tau tentang surat yang dikirim Taeyeon untuk Tiffany karna gadis penyuka warna pink itu selalu menunjukkan padanya.

“Ayo…aku akan membantumu dandan. Teman-teman dan keluarga yang lain sudah menunggu di luar.” Jessica mulai menata rambut Tiffany dan juga riasan wajahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tae, apa kau yakin akan pergi ?” Tanya Jiwoong yang tak lain adalah kakak dari Taeyeon.

“Aku yakin oppa.” Taeyeon sudah menganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian yang lebih casual.

“Tapi wajahmu pucat begitu Tae. Apa kau benar-benar yakin ? Bukankah kau sudah menitipkan surat dan hadiah Tiffany pada Yuri ?” Jiwoong bertanya lagi.

“Iya oppa. Tapi aku ingin bertemu dengannya sebelum menjalani operasi.” Taeyeon masih bersikukuh dengan niatnya.

“Baiklah jika itu maumu. Ayo berangkat.” Jiwoong membawa beberapa perlengkapan Taeyeon yang dibutuhkan termasuk surat ijin keluar dari rumah sakit.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Happy birthday Fany….Happy birthday Fany….Happy birthday happy birthday….Happy birthday Tiffany…” semua anggota keluarga dan teman dekat Tiffany menyanyikan lagu ulang tahun untukknya.

“Fany-ah, ayo make a wish.” Pinta kakak perempuannya, Michelle.

Tiffany menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan mata.

Tidak banyak yang ku pinta Ya Tuhan….aku hanya ingin kau mengembalikan Kim Taeyeon-ku karna aku sangat mencintainya. Dan jagalah selalu dia dimanapun dia berada saat ini. Amin.”

Tiffany membuka matanya lalu meniup lilinnya. Setelah itu pesta di mulai. Satu persatu saudara dan teman-temannya memberikan ucapan selamat dan memberikan hadiah untuk Tiffany. Hari ulang tahunnya bertepatan dengan hari minggu jadi semuanya hadir, mungkin besok Tiffany akan merayakannya lagi di kantor bersama dengan para karyawannya.

“Happy birthday baby girl, semoga kau selalu bahagia.” Daddy Hwang mengecup kening putri kesayangannya itu dan memeluknya. Beliau tidak ingin menanyakan tentang Taeyeon karna itu akan membuat putrinya semakin sedih. Daddy Hwang sudah tau tentang kondisi Taeyeon dari Jessica dan beliau juga turut bersedih.

“Happy birthday Fany-ah…ini hadiah dari kami. Kami harap kau suka.” YulSic couple datang menghampiri Tiffany sambil membawa sebuah kotak yang cukup besar.

“Terimakasih ya Yul, Jessi.” Tiffany bersalaman dan cipika-cipiki dengan YulSic.

“Oh ya Fany-ah…Taeyeon menitipkan ini untukmu.” Yuri mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jeansnya bersama dengan sebuah amplop berwarna pink.

“Taeyeon ? Apa kau tau dimana dia sekarang ? Dan kenapa dia tidak datang ? Kau tau dimana dia sebenarnya kan Yul ? Jessie ?” Tiffany bertanya kepada kedua sepupunya.

Yuri dan Jessica hanya saling tatap. Mereka masih belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Tiffany.

“Hhm…kau buka saja dulu hadiah dari Taeyeon.” Kata Jessica mencoba mengalihkan perhatian Tiffany.

Pertama, Tiffany membuka kotak hadiah yang tidak di bungkus oleh kertas kado itu. Sebuah gelang.

Dengan segera, Tiffany membuka surat dari Taeyeon.

Dear My Love.

Happy birthday Fany-ah ^_^ wish u all the best hehehe…maaf aku tidak bisa hadir 😥 dan hanya hadiah ini yang bisa aku berikan padamu.

Infinity…

Seperti lambang infinity yang tak berujung dan selalu terikat, begitulah cintaku padamu. Tak berujung, terikat, dan tak terbatas. Maaf jika aku agak gombal hehehehe…….aku harap kau selalu bahagia Fany-ah. 

Suatu saat kau akan tau alasanku menghilang, percayalah semua ini bukan keinginanku. Dan aku harap kau masih mau menungguku kembali. Saranghae Tiffany Hwang.

Love,

Kim Taeyeon yang selalu mencintaimu.


Tangisan Tiffany sudah tidak dapat terbendung lagi. Dia sangat ingin bertemu dengan Taeyeon saat ini juga, dia ingin mengatakan bahwa selama ini Tiffany masih menunggunya dan akan terus menunggunya hingga Taeyeon kembali.

“Fany-ah…” Jessica hanya bisa memeluk dan menenangkan Tiffany. Dia merasa bersalah karna menyembunyikan rahasia Taeyeon selama ini. Tapi Jessica dan Yuri sudah terlanjur berjanji untuk mengatakan semuanya ketika sudah waktunya.

“Yul, Jess….kalian tau dimana Taeyeon kan ?” Tanya Tiffany dengan lirih. Matanya sudah merah dan sembab, beberapa anggota keluarga Tiffany mulai mendekat ketika mereka melihat Tiffany menangis sedih.

Yuri dan Jessica belum menjawab dan hanya saling menatap satu sama lain.

Drrt…drrtt…ddrrtt

Handphone Yuri bergetar menandakan ada telpon masuk. Yuri cepat-cepat menjawab panggilan tersebut ketika dia melihat nama si penelpon.

“Hello oppa ?……acaranya belum selesai, memangnya ada apa ?……APA ??!!….Baiklah, aku akan segera ke sana.” Yuri memasukkan handphonenya ke dalam saku jeansnya ketika panggilannya sudah terputus.

“Ada apa Yul ?” Tanya Jessica ketika dia melihat wajah Yuri yang panik. Perasaannya mulai tidak enak.

“Taeyeon…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tiffany, Yuri dan Jessica berlari menyusuri koridor rumah sakit untuk menuju ke ruang operasi. Disana sudah menunggu Jiwoong, Haeyeon dan juga kedua orang tua Taeyeon yang menunggu dengan wajah cemas.

“Fany unnie…” panggil Haeyeon. Lalu gadis remaja yang mirip dengan Taeyeon itu berjalan mendekatinya dan memeluknya dengan erat.

“Hae…Haeyeon-ah….Taeyeon…” Tiffany tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia bingung, sedih, dan hatinya berdebar tidak enak.

“Duduklah dulu Fany, aku akan menjelaskannya padamu.” Kata Jiwoong. Tiffany menurut dan duduk disamping ibunda Taeyeon yang sekarang sedang memeluknya. Sudah lama sekali Tiffany tidak bertemu dengan Umma Kim, dia akui dia sangat rindu dengan wanita paruh baya itu.

“Taeyeon…..dia memiliki penyakit gagal jantung selama beberapa bulan terakhir ini. Pada awalnya dia tak menggubrisnya dan terus fokus dengan pekerjaannya, kau pasti tau bagaimana seriusnya Taeyeon jika menyangkut pekerjaan. Saat itu dia pulang ke Jeonju dan mengeluh merasakan sakit di bagian dadanya, karna khawatir, aku membawanya untuk periksa. Dan hasilnya dia positif mengidap penyakit gagal jantung, aku mengantarnya pulang ke Seoul dan memaksanya untuk menjalani perawatan tapi dia menolak. Dia tak ingin membuatmu khawatir dan sedih, jadi dia berusaha bersikap biasa saja padahal semakin hari penyakitnya semakin parah. Meskipun dia sering bolak-balik ke rumah sakit untuk periksa dan berobat, tapi penyakit semacam ini bukan hal yang sepele. Butuh banyak sekali pengobatan dan juga operasi, walaupun kemungkinannya kecil.” Jiwoong sejak tadi berdiri di hadapan Tiffany dan menjelaskan semua. Sejenak Jiwoong menatap ke pintu ruang operasi dimana didalam sana Taeyeon sedang terbaring lemah dan sedang berjuang antara hidup dan matinya.

“Dua bulan lalu dia tiba-tiba menghilang tanpa memberimu kabar dengan pasti. Saat itu aku menemukannya di apartment dalam keadaan pingsan sambil memegangi dada bagian kirinya. Dengan cepat aku membawanya ke rumah sakit, dan Dokter menyarankannya untuk di rawat disini hingga donor jantung sudah tersedia dan Taeyeon sudah siap. Yuri dan Jessica tau karna Taeyeon sendiri yang memberi tau. Sejak 3 minggu yang lalu donor jantungnya sudah ada, tapi adikku yang keras kepala itu belum mau di operasi karna dia ingin menghadiri acara ulang tahunmu. Aku yang mengantarkannya tadi, tapi di tengah jalan wajahnya semakin pucat, napasnya tidak stabil, dan tubuhnya berkeringat. Dalam keadaan seperti itu dia masih bersikeras menemuimu, tapi aku tak mendengarkan perkataannya dan membawanya kembali ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Taeyeon harus cepat-cepat di operasi.” Jiwoong melanjutkan penjelasannya. Tak ada lagi yang berani buka suara dan hanya isak tangis yang terdengar.

Airmata Tiffany tidak juga berhenti mengalir sejak Ia sampai di rumah sakit sejak 1 jam yang lalu. Dia kemudian menatap gelang pemberian Taeyeon yang dia lingkarkan di tangan kirinya, sedangkan tangan kananya mengenggam bandul kalungnya yang berbentuk gembok dan Taeyeon yang memakai kuncinya. Kalung couple yang Taeyeon beli untuk merayakan satu tahun mereka berpacaran.

Flashback.

“Happy 1st Anniversary baby~” Taeyeon membawa sebuah kue tart berukuran sedang. Pagi-pagi sekali gadis penggemar dookong itu sudah masuk ke apartment Tiffany dan nyelonong masuk ke kamar Tiffany dimana sang empunya masih meringkuk di balik selimut tebalnya.

“Hhngghh Tae…aku masih ngantuk. Jangan ganggu.” Tiffany membalikkan tubuhnya membelakangi Taeyeon. Semalam dia baru sampai di Korea jam 11 malam setelah melakukan perjalanan bisnis dari Singapore. Dan sekarang Taeyeon pagi-pagi sekali sudah datang dan menganggu tidurnya.

“Aish baby~ inikan anniversary kita yang satu tahun. Masa kau tidak mau merayakannya denganku ?” Taeyeon merajuk lucu. Diletakkannya kue tart yang sejak tadi dia pegang hingga pegal di meja kerja Tiffany yang berada di sudut ruangan kamarnya. Setelah selesai, Taeyeon melompat dan ikut berbaring di samping Tiffany yang masih terpejam.

“Baby~ Baby Boo~ bangunlah…” Taeyeon memeluk Tiffany lalu berbisik di telinga kekasihnya itu.

“Ihh~ aku masih ngantuk Boo~ aku capek.”  Tiffany berusaha melepaskan pelukan Taeyeon dan kembali melanjutkan tidur cantiknya.

“Huft…yasudah. Aku akan menunggumu diluar.” Kata Taeyeon dengan nada bete. Setelah itu Taeyeon keluar dan membawa kue tart yang tadi dia tinggal.

2 jam kemudian Tiffany sudah puas dengan tidurnya dan keluar setelah selesai cuci muka dan sikat gigi. Tidak sulit mencari Taeyeon yang sudah pasti ada di dapur karna harum dari pancake yang menyeruak ke seluruh ruangan.

“Morning Boo~” Tiffany menyapa Taeyeon lalu memeluk kekasihnya yang masih sibuk membuat sarapan.

Taeyeon tidak menjawab karna dia masih kesal.

“Boo~ kau masih marah ?” Tanya Tiffany sambil menempelkan dagunya di bahu Taeyeon.

“Tidak.” Jawab Taeyeon pendek. Lalu dia meletakkan pancake di piring dan menyimpannya di meja makan. Pergerakan Taeyeon membuat Tiffany harus melepaskan pelukannya.

“Taetae~” panggil Tiffany lagi lalu dengan cepat memegang kedua pipi Taeyeon dan membuat gadis kelahiran 9 maret 1989 itu menatapnya.

“Maaf…tapi aku masih capek. Tapi sekarang aku siap pergi denganmu, setelah sarapan aku langsung mandi dan siap-siap.” Kata Tiffany dengan antusias lalu duduk untuk menikmati pancake buatan Taeyeon.

“Tidak usah. Kau masih lelah Fany-ah, besok saja kita perginya ya.” Taeyeon meraih tangan Tiffany dan menggengamnya.

“Tidurku sudah cukup Tae. Kita bisa pergi hari ini.” Taeyeon hanya menggeleng.

“Tidak apa-apa. Kita masih bisa merayakannya disini, berdua saja.” Taeyeon yang masih berdiri berpindah posisi ke belakang Tiffany dan memeluknya dari belakang.

“Aku rindu padamu.” Kata Taeyeon dengan nada manja lalu mengecup puncak kepala Tiffany dengan penuh sayang. Diam-diam Taeyeon merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan sebuah kalung yang memiliki bandul berbentuk gembok lalu dia pakaian di leher Tiffany yang membuat gadis penyuka warna pink itu kaget.

“Wah Tae…ini bagus sekali.” Tiffany memegang bandul kalung barunya dan berbalik untuk memberikan senyuman manisnya khusus hanya untuk Kim Taeyeon.

“Ini kalung couple kita. Lihat, aku pake kunci gemboknya.” Taeyeon mengeluarkan bandul kuncinya yang sudah dia pakai dan tersembunyi di balik t-shirtnya.

“Ingat ! Hanya aku, Kim Taeyeon yang bisa membuka hatimu. Tidak boleh ada yang lain.” Taeyeon berkata dengan tegas.

“Baiklah Boo, aku mengerti.” Tiffany berdiri dan memberikan kecupan manis di bibir Taeyeon.

Hari itu mereka tidak kemana-mana, hanya menikmati waktu berduaan saja. Menonton film, bermain video games, perang bantal hingga membuat lagu berdua. Hanya berdua. Kim Taeyeon & Tiffany Hwang.

Flashback end.

Kau sudah berjanji akan berusaha Tae…kau akan kembali padaku.” Ucap Tiffany dalam hati.

5 jam sudah berlalu sejak Taeyeon menjalani operasi dan hingga saat ini Dokter belum juga keluar.

“Kau mau kemana Tiff ?” Tanya Yuri ketika melihat Tiffany berdiri dan hendak pergi. Keadaan sudah mulai sepi. Appa, Umma dan Haeyeon sedang istirahat di ruangan kosong yang berada di samping ruang operasi sedangkan Jiwoong pergi ke kantin untuk membeli makanan dan minuman, Jessica juga sudah terlelap di pelukan Yuri.

“Aku ingin ke gereja, Yul.” Tiffany awalnya marah pada Yuri dan Jessica yang merahasiakan tentan keadaan Taeyeon. Tapi dia mengerti alasan Yuri dan Jessica tidak bisa memberitaunya.

“Nanti saja jika Jiwoong oppa sudah datang, kau bisa minta diantar olehnya.”

“Tidak apa Yul. Aku bisa sendiri, lagipula ini masih jam 8 malam.”

“Baiklah, hati-hati ya.”

Tiffany mengangguk lalu berjalan menuju ke gereja. Sesampainya disana, Tiffany langsung berlutut di depan altar. Dia menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.

Ya Tuhan….aku mohon selamatkan Taeyeon. Aku masih sangat mencintainya. Janganlah kau ambil dia dariku. Dia sudah berjanji padaku untuk kembali…..selamatkanlah dia.”  Tiffany berdo’a dengan khusyuk. Airmatanya mengalir lagi.

“Tiffany-ah…operasinya sudah selesai dan berhasil.” Jiwoong yang menyusul Tiffany setelah operasinya selesai juga ikut berdo’a untuk keselamatan adiknya.

Setelah mendengar suara Jiwoong, Tiffany membuka matanya. Untuk pertama kalinya di hari itu, Tiffany memancarkan senyuman tulusnya. Tuhan mengabulkan doa’anya.

“Bagaimana keadaannya sekarang oppa ? Apa aku sudah bisa melihatnya ?” Tanya Tiffany dengan senang.

“Belum. Dokter masih harus memantau keadaan Taeyeon untuk beberapa hari kedepan, apakah tubuh Taeyeon bisa menyesuaikan dengan organ yang baru atau tidak. Bagaimanapun, operasi jantung resikonya sangat besar.” Mereka mempercepat langkahnya menuju ke ruang rawat Taeyeon.

Kau harus kembali Tae…Itu janjimu.” Ucap Tiffany dalam hati.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Epilogue


5 Tahun kemudian….

Mentari pagi sudah mulai memancarkan sinarnya dan menyapa setiap insan yang masih terlelap, kehangatannya mengetuk melalui jendela dan memaksa setiap orang untuk mulai bangun.

“Eunghh….” Tiffany Kim perlahan-lahan membuka matanya ketika sinar mentari sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia menolehkan kepalanya ke samping kanan dan tersenyum ketika dia melihat suaminya, Kim Taeyeon masih terlelap. Sejak kejadian malam tadi, tubuh mereka tak terbalut sehelai benang pun.

Tiffany menatap wajah Taeyeon yang sangat tenang. Di elusnya pipi Taeyeon dan juga garis rahangnya yang tajam, salah satu bagian kesukaan Tiffany dari wajah Taeyeon. Pandangannya tak sengaja menatap ke dada kiri Taeyeon, luka itu masih ada dan membekas. Luka operasi jantung yang membuatnya hampir kehilangan kekasih tercintanya itu. Jari telunjuknya menyentuh luka bekas jahitan itu. Taeyeon menepati janjinya untuk kembali, dan beberapa hari setelah Taeyeon sadar dan kondisinya stabil, gadis yang sangat hobi menggambar itu langsung melamar Tiffany di atas ranjang rumah sakit. Tanpa pikir panjang tentu saja Tiffany mengatakan ‘YA’ , meskipun setelahnya dia meminta lamaran yang sesungguhnya dan sangat romantis. Dan disinilah mereka sekarang, tinggal satu atap, resmi menjadi suami istri dan sudah dikaruniai seorang malakikat kecil yang berumur 4 tahun yang di beri nama Kim Seohyun.

“Morning Daddy~” sapa Tiffany ketika dia melihat Taeyeon perlahan-lahan membuka matanya.

“Morning Mommy~.” Balas Taeyeon. Kebahagiaannya sudah lengkap sekarang. Memiliki istri yang baik, cantik, sexy…ya meskipun Tiffany tidak jago masak tapi setidaknya istrinya itu sekarang sedang khursus memasak.

“Mana Seohyun ? Biasanya dia sudah gedor-gedor jam segini.” Taeyeon belum mau beranjak dari kasur empuknya, ditambah lagi dengan istrinya yang masih naked membuatnya betah berlama-lama.

“Ish kau lupa ya ? Seohyun kan ‘diculik’ oleh Daddy dan Mommy Hwang karna mereka sangat rindu padanya.” Tiffany mengetuk pelan kening Taeyeon.

“Aku tidak ingat apapun semalam selain untuk memberikan kenikmatan padamu.” Taeyeon menarik pinggang Tiffany hingga tubuh polos mereka kembali bersentuhan dan menimbulkan sensasi yang baru mereka rasakan tadi malam.

“Yah byuntae !! Lepaskan ! Aku mau mandi ugh tubuhku lengket.” Tiffany berusaha melepaskan pelukan Taeyeon. Tapi pelukan Taeyeon malah semakin erat.

“O’ow kau tidak boleh kemana-mana mangsaku…rawr~.”

“Eungghh Tae….”

[SKIP]

Dear, My Love.
Terimakasih sudah mau menungguku dengan sabar. I’m so lucky to have you as my life partner. I Love You, Tiffany Kim.

Dear, My Love.

Terimakasih sudah mau berjuang dan kembali untukku. I’m so lucky to have you as my life partner. I Love You, Kim Taeyeon.




THE END-



Fiuhh…akhirnya selesai. Semoga kalian suka guys. Makasih yang masih suka mampir ^_^.

Annyeong~

Advertisements

20 comments

  1. kenbyun · August 4, 2016

    Tae perjuangan nya panjang bgt, salut gua tae bisa nempatin janjinya kepany dan skrng mreka hidup bahagia 😍😍😘
    Ff WGM kpn update thor?

    • soshiroyalroom9 · August 4, 2016

      Belum ada ide 😦 nanti akan saya coba lagi

      • kenbyun · August 5, 2016

        OKe thor ditunggu jehehe😁😂😂

  2. kimhwang · August 4, 2016

    kirain tae selingkuh ngilang pas awal hahaha
    tapi ternyata dia sakit ya tapi untunglah ini happy ending
    jangan bikin juniel jadi pihak ketiga di ff taeny thor ntar tuh bocah dibully lagi sama ls hahaha

  3. kimshantyhwang · August 4, 2016

    Taeny is love, #eakkkk. Cuma karena cinta yg bisa buat keajaiban. Wlaupun tae udah tipis bgt kemungkinan utk hidup, tp krn cintanya sm pany dia bisa berjuang dan kembali. This is the real power of taeny love……#eakkkkk

  4. Taen6goola · August 5, 2016

    Anyeong thor…
    Ceritanya keren thor😁
    Ditunggu next ffnya.. FIGHTING

  5. vina · August 5, 2016

    Waah author kmbali lagi, tae gagal jantung, sgt tipis tuk bs hidup, tp berkat doa fany n tae jg udh janji tuk kembali akhirnya taeny kembali brsatu,

  6. sherink1820 · August 5, 2016

    Romantis bngttt
    Wkwkwkwkk
    Tae bener2 berjuang yaa
    Akhirnya happy ending
    Dh deg2 kan
    Wkakakakaka
    Kerenn thorrr

  7. . · August 6, 2016

    gue kira tae ilang gara”main ama cewe”:’v ternyata sakit:’3 keren lah , sama”berjuang , tae berjuang buat bertahan,tiffany berjuang buat ttp sabar nunggu tae sembuh

  8. kristya · August 6, 2016

    yeyyyy happy endinggggg
    taetae jjangg untung dia selamat
    duhhh romantis bnget pokoknya
    oh ya annyeong thor aq new readers salam kenal
    ijin baca ff ya
    semangat terus yaa kak fightinggggggggggg

  9. brigittagapes · August 30, 2016

    Tutup mata…. wah… aku masih polos… wharrrwww…
    Yuhuuu…. sweeet moments diabtyes… nah gw udh ragu tae bisa bertahan ternyata Tuhan masih sayang ama Tippa. Yuhuuuu… taeny greget…. cukup mompa jantung nih ff… wkwkwkw…
    Okay see ya thor n hwataenggg!!!

  10. im d · September 3, 2016

    Kira-in Tae mao metong tp alhmdulilah ny Tuhan kasih kesempatan Tae buat idup.. Jah itu ga d kasih tao gmna proses ny bikin Seobaby.. D tggu ff laen lg

  11. Q'cho11 · September 17, 2016

    Ohhh my bikin mewek aja 😢😢 sendiri dirumah sakit dgn kondisi qu yg lemah di akibatkan tipes di kira baca ff thor ngebuat suasana qu makin happy dan ternyata makin murung saja😐… Sy kira sad ending tau taunya happy ending.. Romantic sekali mrk ehm.. Gomawo thor… Salken thor maqy disnie….

    • soshiroyalroom9 · September 25, 2016

      Hai salam kenal juga. Jangan galau dong hahahaha gws btw

  12. komang · September 30, 2016

    eaa akhirnya bisa sembuh juga si tae untyng fany nya ngak kepikiran buat mutusin dia yah wkwkwkw

  13. kimie · October 16, 2016

    syukurlah tae gk jadi dead ..bisa bisa fany mnderita tuh..

  14. emyeonhye · February 6

    Taeyeon akhirnya menepati janjinya ke fany walaupun susah untuk dijalanin sama taeyeon dan untungnya fany setia menunggu taeyeon sampe akhirnya mereka hiduo bahagia 😊

  15. kwonyulsic14 · April 20

    Ughhh sweet nya keterlaluannn😣😣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s